Pemasangan Belawing Kedua Desa Long Lebusan, Simbol Budaya dan Kebersamaan Masyarakat
Desa Long Lebusan kembali memperkuat identitas budaya masyarakat adat Dayak Kenyah melalui pemasangan belawing kedua pada tahun 2026. Pemasangan belawing ini dilakukan setelah belawing pertama yang dibangun pada tahun 2006 harus dipindahkan karena adanya pelebaran jalan desa.
Belawing merupakan salah satu simbol adat penting bagi masyarakat Dayak Kenyah. Belawing berbentuk tiang adat yang dihiasi ukiran dan warna khas Dayak serta menjadi lambang identitas, kebanggaan, dan penghormatan terhadap budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Pembangunan belawing kedua ini dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat Desa Long Lebusan. Kayu pilung yang digunakan sebagai bahan utama diambil langsung dari hutan. Proses penarikan kayu memakan waktu selama dua hari dan melibatkan lebih dari 100 orang pemuda desa yang bekerja bersama dengan penuh semangat kebersamaan.
Pengerjaan belawing dimulai pada tanggal 21 April 2026 dan selesai pada tanggal 23 April 2026. Seluruh proses dilakukan bersama-sama oleh masyarakat, mulai dari pengambilan kayu, pengerjaan tiang, hingga proses pengukiran dan pengecatan motif adat.
Belawing tersebut dihiasi dengan tiga warna khas Dayak yang memiliki makna mendalam. Warna putih melambangkan kebersihan dan kesucian. Warna kuning melambangkan kecerahan serta harapan untuk membangun desa tanpa hambatan. Sementara warna hitam melambangkan dasar kekuatan, kekompakan, dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga persatuan.
Pada bagian atas belawing juga terdapat ukiran dan simbol burung enggang yang merupakan satwa sakral bagi masyarakat Dayak. Burung enggang melambangkan kebesaran, kemuliaan, kesetiaan, serta dianggap sebagai simbol perantara leluhur. Selain itu, burung enggang juga merepresentasikan kepemimpinan, keberanian, persatuan, dan keharmonisan hidup dengan alam yang hingga kini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Kenyah.
Melalui pemasangan belawing kedua ini, masyarakat Desa Long Lebusan menunjukkan bahwa budaya dan nilai gotong royong tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Belawing tidak hanya menjadi ornamen adat, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat serta pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Baca juga:
Verifikasi Teknis Hutan Desa Long Lebusan
Verifikasi Teknis Hutan Desa Long Lebusan